Polly po-cket
CERITA SEX
.

Namaku Arif, aku bekerja di sebuah
kantor BUMN. Aku sudah menikah
selama 3 tahun dengan istriku. Walau
kami belum dikaruniai anak, kami
sangat bahagia karena istriku adalah
orang yang pandai sekali menyenagkan
suami. Sepertinya tidak ada habisnya
sensasi, gaya, dan teknik yang istriku
peragakan setiap kami bergumul di
ranjang. Aku 7 tahun lebih tua dari
istriku yang kini berusia 28 tahun.
Beberapa waktu lalu, rumah kami
semakin berwarna ketika adik bungsu
istriku yang kuliah kedokteran di salah
satu perguruan tinggi negeri tengah
menjalankan Koass di salah satu Rumah
Sakit negeri yang kebetulan berada
dekat dengan rumah kami. Umurnya
masih sangat muda sekitar 22 tahun, dia
termasuk mahasiswi yang cerdas karena
dapat menuntaskan studi tepat pada
waktunya. Jika dilihat dari wajahnya, dia
lebih cantik dari istriku, ditambah
wajahnya yang teduh dan keibuan.
Walaupun tubuhnya aku taksir tidak
sebagus tubuh istriku tapi masih diatas
rata- rata wanita pada umumnya.
Perbedaan lainnya, jka istriku senang
berpakaian seksi dan menarik lawan
jeNurnya, apalagi ditunjang dengan
tubuh yang sangat aduhai. Adik dari
istriku ini malah sebaliknya, dia
menutupi kecantikannya dengan pakaian
yang sangat longgar dan jilbab yang
lebar. DItambah manset dan kaus kaki
sehingga aku hanya bisa melihat
wajahnya yang putih bersih dan telapak
tangannya. Bahkan setiap aku ada di
rumah dia tidak melepaskan jilbab dan
kaoskakinya walau barang sebentar.
Naman gadis cantik itu adalah Nurul.
Kami lalui hari dengan wajar, aku bisa
berangkat terlebih dahulu dengan
mengantarkan istriku ke kantornya.
Sedangkan Nurul terbiasa berangkat
terakhir karena letak Rumah Sakit yang
tidak terlalu jauh dari rumah kami.
Walau dalam hati aku menyimpan
ketertarikan pada Nurul. Aku semakin
bergairah ketika melihat tingkahnya
yang sopan, murah senyum, dan lenggok
pinggulnya ketika berjalan walau aku
yakin bukan maksud dia untuk
melakukan itu. Inner beauty yang
terpancar ditambah bakat kecantikan
den kemolekan tubuhnya selalu ia jaga
dengan baik. Katanya hanya untuk
suaminya saja, bahkan dia tidak mau
pacaran walau saya yakin pasti banyak
laki-laki yang menginginkannya.
Jilbabnya yang lebar itu tidak dapat
menutupi lekukan dadanya yang
membusung. Jika istriku berukuran 38 B
aku taksir besar tetek adik istriku itu
sekitar 36 B. Tingginya yang semampai
hampir mencapai 165 cm ditunjang
tubuh yang tidak kurus juga tidak gemuk
membuat mata laki-laki manapun pasti
akan terkesima. Apalagi jika dirumah
aku sering melihatnya hanya
menggunakan daster saja walau wajah
dan kakinya tidak dapat aku lihat, tapi
aku dapat membayangkan bagaimana
tubuhnya. Terkadang ketika aku
bergumul dengan istriku aku
membayangkan sedang melakukan
dengan Nurul, sikapnya yang tertutup
pada laki-laki dan selalu menutup
tubuhnya semakin membuatku
penasaran. Hanya saja aku masih
menghargainya sebagai adik dari istriku,
dan sikapnya yang menjaga diri.
Gayanya dan sikapnya yang renyah
membuat siapapun jadi tidak sungkan
untuk mengenalnya lebih dekat
denganna walau ia tetap menjaga jarak.
Suatu hari, sepulang kantor aku
membuka DVD Blue Film yang baru aku
pinjam dari teman kantorku, Blue Film
yang aku tonton degan menggunakan
komputer cukup bagus dimana Film
tersebut tidak terlalu vulgar dan seronok
yang membuat orang jijik. Itu
membangkitkan gairahku, kudekati
istriku yang sedang menonton tivi di
ruang tengah, aku mulai mencumbunya
dan dia pun membalas cumbuanku, tiba-
tiba ku dengar pindu depan terbuka,
pasti Nurul gumamku. “Tumben jam 9
baru datang Nur?” Tanya istriku, “Iya
mbak, tadi praktik bedah dulu. O ya mas,
boleh kan aku pakai ruang kerjanya, aku
mau buat laporan” lanjut Nurul.
“Silahkan aja, pakai sebabasnya dan
jangan canggung disini” ujarku sambil
menahan birahi yang baru saja naik.
“Terima kasih ya mas” ucapnya. Setelah
Nurul masuk kamar kamipun segera
melanjutkan kegiatan kami dan pindah
ke dalam kamar kami. Pergumulanpun
semain seru karena istriku mulai
mengeluarkan jurus- jurus barunya. Tapi
tidak perlu ku ceritakan karena bukan
ini inti cerita yang akan aku ceritakan.
Setelah kami puas kamipun tertidur. Aku
terbangun sekitar pukul 1 dini hari,
kulihat istriku masih terlelap kelelahan
tanpa sehelai benangpun disebelahku.
Aku keluar kamar untuk mengambil air
minum dan memeriksa kondisi rumah.
Kulihat sekilas Nurul masih di ruang
kerjaku dan masih di depan komputer,
setelah kupastikan semua pintu terkunci
dan aku mengambil segelas air. Aku
mulai perhatikan Nurul yang tampaknya
tidak mengetahui keberadaanku. Aku
puji kecantikanya dalam hati. matanya
yang lentik, bibirnya yang tipis dan
menawan. Namun…tiba-tiba aku melihat
sesuatu yang ganjil. Mata Nurul masih
memandangi layar komputer saat itu,
tapi tangannya mulai menyusup dibalik
jilbabnya. Dari pergerakan tangan yang
tertutup jilbabnya itu aku tahu apa yang
dia lakukan. Dia meremas-remas
teteknya sendiri, ku lihat matanya
setengah terpejam bibirnya terbuka.
mungkin dia sedang merasakan sensasi
yang baru dia rasakan. “mhh..
uuhhhmmm… aaahhh….” ku dengar
desahan samar dari mulutnya, aku
segera bergegas ke kamar untuk
mengambil Handhone ku dan segera
merekam kejadian langka ini. Tangan
kanan Nurul masih terus meraba
teteknya, kini rabaannya kian keras dan
bersemangat dan tidak hanya itu aku
lihat sepintas tangannya melepas
kancing daster bagian atasnya, dan aku
yakin dia memasukkan tangannya ke
dalam teteknya. Kejadian itu terus aku
rekam. Sesekali Nurul melengguh “uuhh
…aahhh… mhh… ..oohh…” matanya terus
terpejam, bibir bawahnya dia gigit,
terkadang kepalanya tergeleng ke kanan
dan ke kiri. Ternyata tidak selesai disitu,
tangan kirinya mulai menuju ke
selangkangannya, dia meraba
memeknya sendiri dari luar dasternya.
ku lihat jari tengahnya terus menggosok
bagian tengah memeknya, aku zoom
kamera HPku, dan melihat secara close
up apa yang sedang dia lakukan. Nurul
mulai menarik dasternya ke atas, walau
masih menggunkan kaus kaki mulai
terlihat betis atasnya yang sangat putih,
sedikit-demi sedikit daster tersebut
tertarik ke atas oleh tangan kiri Nurul.
Pahanya yang putih mulus mulai
tersingkap, kontolku mulai tegang
melihat pemandangan iu. Sampai
akhirnya tangannya berhenti ketika
daster mulai sampai di bagian perutnya.
Dan terpampanglah celana dalam Nurul
yang berwarna putih. Tangan kiri Nurul
terus bergerak masuk ke dalam celana
dalamnya. Ku lihat tangannya terus
bergerak-gerak diantara
selangkangannya. Desahannya semakin
menjadi, rangsangan yang sungguh
hebat membuat dia tidak merasakan
keberadaanku. “Auuuuww…
oohh… .ahhh… .eehhhmmm… yyaaahhh ”
racaunya. Sungguh pemandangan yang
belum pernah aku lihat seorang wanita
berjilbab yang tengah bermasturbasi
tanpa melepaskan jilbabnya. Dulu saat
kuliah aku pernah mengintip anak ibu
kosku yang melakukan itu, tapi itu
kurang menantang karena anak ibu kos
ku itu sering mengumbar auratnya dan
punya affair dengan salah satu teman
kosku. Tapi ini pemandangan yang
berbeda dan sungguh luar biasa.
Gerakan tangan kiri Nurul di memeknya
semakin cepat, dan remasan tangan
kanan di teteknya semakin kuat. Ingin
rasanya aku membantunya, tapi masih
sibuk merekam dengan kamera
handphoneku. Sesaat kemudian aku
lihat dia mulai menghentikan
aktifitasnya, nafasnya naik turun teratur,
matanya masih terpejam, tapi aku tidak
tahu apakah dia telah mencapai puncak
kenikamatan atau belum karena aku
tidak mendengar jeritan yang biasanya
menjadi ciri wanita saat orgasme.
Sebelum dia sadar aku segera bergegas
menuju kamarku, dan mulai mereview
kembali dari HPku apa yang baru aku
saksikan tadi. Tanpa sadar aku
melakukannya sambil beronani, sampai
orgasme beberapa kali. Aku baru
menyadari DVD Blue Film yang baru aku
pinjam tadi, ternyata masih tertinggal
dalam komputerku, aku yakin tadi tanpa
atau dengan sengaja dia melihatnya.
Aku yakin karena dalam DVD itu ada
adegan wanita yang melakukan
masturbasi, mungkin dia mengikutinya.
Keesokan paginya, semua sepertinya
biasa dan nampak wajar, istriku masih
sibuk berdandan, maklum dandannya
bisa sampai 2 jam sendiri. Aku memulai
sarapan tanpa menunggu istriku,
kemudian ku lihat Nurul sudah rapih dan
keluar dari kamarnya. Dia sangat cantik
dengan dandanannya yang sederhana,
hanya berbalut bedak tipis dan lip glose
seperlunya. Tapi ini adalah
pemandangan fantastis, wanita yang apa
adanya aku lihat menjadi jauh lebih
cantik dibandngkan yang ber- make up.
Jilbab warna pink dipadu kemeja putih
dan rok panjang warna senada dengan
jilbabnya membuat dia semakin cantik.
Diapun tanpa merasakan apapun
memulai sarapan paginya. Aku
membuka obrolan pagi itu “Gimana Nur?
laporannya selesai semalam?”, “Sudah
selesai mas, terima kasih ya ruangan
dan komputernya” katanya tenang.
“Ngerjain laporan atau ngerjain yang
lainnya?” sindirku, Nurul langsung
terdiam dan menghentikan kegiatannya
yang sedang mengambil nasi dari rice
cooker. Wajah putihnya mulai bersemu
merah, mungkin dia mulai menyadari
aku melihat apa yang dilakukannya.
“Tenang saja, kita kan sama- sama
dewasa, tahu sama tahu lah dan aku
pun tidak akan ceritakan ini ke
kakakmu” ujarku sambil ku perlihatkan
hasil rekaman di HPku. Wajah Nurul
semakin tegang, keringat mulai
membasahi wajahnya, tak sepatah
katapun keluar dari mulutnya, aku tahu
dia sedang bingung, malu, dan mungkin
takut juga. “Mungkin lain kali kalu mau
jangan sendiri, aku siap membantu
kamu sampai kamu puas” Bisikku.
Tanpa menjawab dia langsung beranjak
dari kursinya dan menyambar tasnya,
tanpa mengucapkan sepatah katapun,
yang aku tahu matanya yang berbicara,
matanya nampak mulai penuh dibasahi
air mata yang hendak meloncat keluar.
Malamnya, aku berlaku seperti biasa
seperti tidak terjadi apapun. Sedangkan
Nurul seperti agak sungkan dan kaku
setiap bertemu denganku. “Pah, tidur
yuk, mamah dah ngantuk banget nich”,
“Ya sudah tidur aja dulu, nanti papah
menyusul”. Setelah kulihat istriku sudah
tertidur lelap, aku beranikan diri
mendekati kamar Nurul, yang
nampaknya masih menyala terang,
sepertinya dia masih belajar. Tok… tok…
tok… aku mengetuk pintu kamarnya.
“Siapa?” sahutnya dari dalam, saat dia
buka pintu kamarnya, aku segera
mendorong pintu itu sehingga Nurul
agak tersungkur kebelakang. Aku kunci
dari dalam pintu kamarnya,
“Mass… .mas mau apa? keluar dari
kamarku”, “Kamarmu? apa kamu lupa
kamu tinggal dimana?” sahutku agak
tinggi, dia terdiam. “Kamu mau videomu
tersebar kemana-mana? bahkan
wajahmu close up di video itu, semua
orang akan melihat apa yang kamu
lakukan”, “A …apa mau mas?” ucapnya
terbata. “Aku hanya mau kamu
memuaskanku malam ini…”, “Ja… jangan
mas, aku masih perawan, aku lakukan
apa saja asal bukan melakukan itu”,
“Buka!” perintahku ketika kontolku tepat
berada di hadapan wajahnya. Dia mulai
membuka celana pendek yang aku
kenakan sampai ke lutut, Nurul agak
terperangah meihat kontolku yang mulai
tegang dan begitu menonjol seakan
celana dalamku tidak sanggup
memuatnya. Dengan bergetar tangannya
menurunkan celana dalamku dan
kemudian menurunkannya hingga ke
lutut. Tampak kini dihadapannya
kontolku yang telah tegak mengacung
bagaikan sebuah tombak yang siap
dihujamkan. Tampak ragu dia meraih
kontolku dengan sambil menundukkan
kepalanya. Akupun meraih tangannya
yang halus, dan menyentuhkannya ke
kontolku, rasanya sangat nyaman,
dimana kulit lembutnya menyentuh
kontolku yang sudah mengeras, kokoh,
otot-otot yang keluar menambah kesan
sangar. Wajahnya tertunduk dan mulai
tersedu, tapi aku tak menghiraukan, aku
maju mundurkan tangannya, sampai
beberapa saat aku tak perlu menuntunna
karena tangannya sudah faham apa
yang harus dilakukannya. Nurul pun
mulai berani menaikkan wajahnya dan
menatap kontolku. Tak berapa saat aku
merasakan sesuatu yang ingin melesak
dari dalam tubuhku, sampai
akhirnya…”aahh …..” aku melengguh
disertai keluarnya sperma dari kontolku.
“aaaauuwww ….” Nurul tersentak kaget
ketika spermaku keluar. Karena dia
berada tepat didepan kontolku,
muncratan spermaku mengenai
wajahnya, matanya, hidungnya, bibirnya
dan sebagian lagi ke jilbabnya. Aku
tersenyum puas lalu ku tinggalkan Nurul
yang masih terpaku. Esoknya aku
melakukan hal yang sama. kali ini, aku
tidak perlu membentak dan
memerintahkan, Nurul sudah
mengetahui apa yang harus dia lakukan.
Walau agak ragu, dia mulai berani
menurunkan celanaku sendiri, sampai
celana dalamku, dan memulai belaian
lembut pada kontolku. dia tidak malu
dan canggung seperti kemarin walu
masih nampak wajah takut dan terpaksa
melakukan itu. Aku memegang tangan
kanannya, sambil membiarkan tangan
kirinya tetap menggenggam kontolku
yang hampir tak tergenggam tangan
mungilnya karena diameternya yang
hampir mencapai 7 cm. AKu
renggangkan telapak tangannya dan aku
tuntun melakukan gerakan mengusap
pada ujung kontolku, telapak tangannya
mengusap dengan melakukan gerakan
memutar di ujung kontolku seperti yang
sering istriku lakukan. Hal ini
memberiku sensasi yang lebih, apalagi
yang melakukan adalah seorang wanita
yang polos tentang seks, alim dan selalu
berjilbab, menjaga dirinya dan menutupi
tubuhnya. suatu sensasi yang sangat
luar biasa. Aku kembali mencapai
puncak dan memuntahkannya
diwajahnya. Kegiatan itu sering kami
lakukan tanpa sepengetahuan istriku
sampai beberapa waktu lamanya. Pagi
ini aku baru sampai dari kantor karena
mendapat giliran piket, karena itu siang
ini aku mendapat libur. Sampai di rumah
suasana wajar setiap pagi seperti yang
telah menjadi rutinitas. Istriku sudah
siap berangkat ke kantor, dan taksipun
telah menunggunya diluar. “Pah aku
berangkat dulu ya..” sambil menciumku,
tubuhnya indah dibalut blazer ketat dan
rok yang sangat pendek, ahh…itu
pemandangan biasa. “Mah…sekalian
kunci ya pintunya” ujarku, “Nanti saja,
Nurul belum berangkat, biar dia saja
yang kunci pintu…” ujarnya sambil
berlalu. “Hah..Nurul masih di
rumah..padahal biasanya dia
sudahberangkat pagi- pagi sekali”
bisikku. “Kreeekkk… blak” kulihat intu
kamar yang dibuka dan kemudian di
tutup, ku lihat Nurul mengenakan jilbab
warna puti sampai dibawah sikunya,
gamis pink warna kesukaannya dan rok
puti…manset dan kaos kaki putih pun
sudha menghiasi lengan dan kakinya.
Dia terperanjt melihatku sudah di dalam,
dia langsung menundukkan wajahnya
dan bergegas menuju pintu. “Nggak
makan dulu Nur?” sahutku memecah
keheningan,”Ngga mas..di RS aja, ngga
enak sudah telat…” sambil terus
menundukan wajahnya dan berlalu. “Eii…
ttt…mau kemana?santai dulu di sini”,
“Jangan mas…aku udah telat ke RS,
nanti residentku marah” sahutnya
ketakutan, “Apa peduliku…!”, langsung
muncul niat di pikiranku, “Kamu mau
video itu tersebar? kamu ingat? kamu
tingga di rumah siapa? akan tinggal
makan, tidur tinggal tidur…”, wajahnya
semakin memerah sangat jelas karena
kulitnya yang putih tidak dapat
menutupinya. “Kamu juga harus punya
pengorbanan…” lalu aku duduk di sofa
depan TV yang biasa kami gunakan
untuk menonton, aku masih berkemeja
lengkap. “sini … duduk didepanku”, dia
langsung memahami perintahku,
wajahnya masih tertunduk, dan sama
sekali tidak melihatku. Tanpa di suruh
dia langsung membuka ikat pinggangku,
lalu celanaku dan menurunkannya
sampai ke mata kaki. Ahh…
pemandangan yang sangat tidak ingin
aku lewatkan, berdua dengan wanita
cantik di rumah, dan yang paling
penting, kami tidak melakukannya
sembunyi-sembunyi di kamar, tapi di
ruang tengah yang sangat luas, aku
semakin terobsesi. Tanpa di suruh,
Nurul langsung mulai menggerak-
gerakkan tangannya mengocok batang
kontolku yang mulai tegak. berapa saat
kemudia, “berhenti… aku sudah bosan
dengan cara itu, ganti dengan cara
lain!!”, “Cara gimana mas…aku ngga
ngerti” ambil terus tertunduk pasrah.
“dengan mulut kamu….sekarang ”, aku
lihat tubuhnya merespon dengan sangat
terkejut perintahku, hal yang tidak
pernah sama sekali dia bayangkan.
“semakin lama kamu melakukannya…
semakin terlambat sampai
RS…”bentakku . Nurul pun mulai
menuruti perintahku, didekatkan bibirnya
yang mungil itu ke kontolku, ketika
bibirnya yang lembut, hangat dan basah
oleh lipglose itu menempel ujung
kontolku, aku merasakan sensasi yang
luar biasa. Cara menciumnya pun
sangat aneh, karena dia tidak pernah
melakukannya sama sekali, tapi aku
biarkan karena di situ seninya, melihat
wanita alim yang masih polos
melakukan oral sex. Aku tertawa dalam
hati, dan menikmati apa yang ada di
hadapanku. Mungkin sudah insting,
ciumannya mulai mengitari seluruh
kontolku, bahkan sesekali dia basahi
dengan lidahnya. Dia melakukannya
dengan mata yang selalu terpejam,
kuberanikan memegang punggungnya,
aku rasakan detak jantungnya berdebar
sangat keras hingga ke punggung. “ahh…
nikmati sekali Nurul sayang… .terus
sayang… kulum semuanya… seperti
kamu mengulum permen lolipop ketika
kamu kecil dulu” ujarku sambil mulai
berani mengusap dan membelai
jilbabnya. Dengan ragu Nurul
memasukkan kontolku ke rongga
mulutnya, aku tidak tinggal diam aku
segera mendorong kepalanya semakin
masuk, sehingga dia tahu apa yang
harus dia lakukan… .Tangaku mulai
berani menyusup ke balik jilbabnya, dan
menemukan sebuah gundukan yang
sangatlembut terbalut bra, “mhh… cuma
34B tapi lembut dan indah sekali”
desisku. Nurul terperangah, dan
langsung tangannya memagang
tanganku dan menjauhkannya dari
dadanya. “Diam!!!” bentakku. Dia
terdiam, dan matanya mulai meneteskan
air mata. Lalu tangan kananku
memegang bagian belakang kepalanya
dan memaju mundurkan kepalanya,
sehingga bibirnya yang lembut beradu
dengan lapisan kulit kontolku, aku
merasakan sensasi yng sangat luar
biasa dan tidak pernah aku dapatkan.
tangan kiriku kembali bergerilya di
teteknya, kali ini tidak ada perlawanan,
bahkan ketika aku mulai meremas
teteknya yang lembut. Aku merasakan
putingnya semakin mengeras, tanda dia
mulai terangsang dan menikmatinya.
Sampai beberapa saat akhirnya “aaahh…
aauuww…” Aku mengejang, dan seketika
muncullah sperma hangat dari ujung
kemaluanku. Nurul kaget bukan
kepalang, dia berusaha mengeluarkan
kontolku dari mulutnya, tapi itu sia-sia
karena tangan kananku menahannya.
Akhirnya spermaku muntah di rongga
mulutnya….. dia hanya bisa tergugu dan
diam dengan mulut yang masih
mengemut kontolku. ketika ku cabut,
spermaku meleleh dari bibirnya yang
manis, dan diapun memuntahkannya…
ahhh… indah sekali. dia langsung berlari
ke wastafel untuk memntuahkan apa
yang baru ditelannya. dia meludah terus
menerus, sambil terus senggukan
menahan tangis. Lalu dia pun masuk ke
kamar. aku masih menikmati ejakulasi
terindah yang pernah aku rasakan,
sambil tetap duduk di sofa tengah. Tak
berapa lama, Nurul keluar dari
kamarnya, dengan jilbab dan gamis
yang baru, mungkin karena kusut dan
terkena cipratan spermaku. Walaupun
tetap dengan wajah menunduk, tai dia
mulai berusaha bersikap biasa, dan
berani mencairan suasana. “Mas… aku
berankat dulu”, “Iya… hati- hati ya…
rahasiamu aman denganku”. Malam
harinya aku bergumul hebat dengan
istriku hingga aku terlelap. Sebenarnya
aku ingin sekali segera memiliki buah
hati, tapi itu belum terjadi, ya sekarang
sih aku puas- puasin dulu dengan istri.
Saking terlelapnya aku tidak tahu kapan
Nurul datang. Jam 2 dini hari aku
terbangun lagi, dan seperti biasanya aku
mengambil minum di kulkas. Ku lihat
kamar Nurul masih terang, “mhh… rajin
sekali belajarnya”, lalu ku ketuk pintu
kamarnya, libidoku pun mulai naik lagi.
“Nur… buka pintunya” ujarku. “I… iya
mas…”, agak lama dia membuka
pintunya karena biasanya dia
mengenakan jilbabnya dulu sebelum
menemuiku. “belum tidur ya?”, “Belum
mas, masih ada tugas… mhh… boleh aku
pinjam lagi komputernya mas?”, “Tentu
saja boleh…tapikamutahu syaratnya
bukan?”, dia terdiam…mungkin bingung,
dia tahu arah pertanyaanku, tapi dia
tidak ingin melakukannya. Mungkin tidak
ada pilihan lagi, seketika dia segera
menjalankan tugasnya, anehnya kali ini
dia sangat buas mengulum kontolku, dia
seperti sudah lihai dengan tugasnya,
“ah… mungkin dia mencontoh dari DVD
BF yang dulu dia tonton di komputerku”,
“mulutnya terus membasahi kontolku,
terus melakukan gerakan mengurut dan
merangsang agar kontolku segera
mengeluarkan lahar putihnya.
Pemandangan yang luar biasa, dengan
daster yang lebar dan mengenakan
jilbab kaos putih ang sangat lebar. Dan
dia pun hanya diam ketika dua tanganky
menyelinap dibalik jilbabnya dan mulai
meremas teteknya. Aku perhatikan
mukanya mulai memerah, kadang
nafasnya tertahan dan mulai memburu.
DIa tarangsang…aku yakin sekali, dia
juga manusia yang punya hasrat. Sesaat
kemdian kontolku mulai bergetar dan
segera melesakkan lahar putihnya, Nurul
kaget dan spontan mengeluarkan
kontolku dari mulutnya, aku tidka dapat
menahannya karena tanganku sedang
sibuk meremas teteknya. Seketika
spermaku menyembur di wajahnya,
mengenai matanya, bibirnya, dan pipinya
yang merona merah. “Ahhh ….” aku
kaget mendengar kata itu keluar dari
bibirnya. “bersihkan!” serta merta bibir
dan lidahnya membersihkan sperma
yang masih menempel di kontolku.
Akhirnya, kegiatan ini sering saya
lakukan, walaupun tetap aku paksa,
namun dia sudah tidak canggung untuk
melakukannya. Bahkan, dia semakin
lihai agar membuatku segera ejakulasi.
Mungkin itu dia dapatkan dari pelajaran
di kuliahnya, dia tahu titik rangsang
yang paling sensitif.


U-ON